Pemahaman tentang Islam

Islam secara lafaz mempunyai makna menundukkan wajah (Q. 4:125), berserah diri (Q. 3:83), suci, bersih (Q. 26:89), selamat, sejahtera (Q. 6:54), dan perdamaian (Q.47:35). Dengan pengertian lafaz ini dapatlah disimpulkan bahwa Islam mempunyai sifat yang selalu melekat di dalamnya yaitu berserah diri dan wujud perdamaian. Kalimat Islam di dalam A1 Quran disebut sebagai ad-diin (Q. 3:19,85) yang berarti sebuah manhaj, sistem atau aturan hidup yang menyeluruh dan lengkap. Kalimat Islam juga bermakna ketundukan, wahyu ilahi (Q. 53:4 dan Q. 21:7). Sementara di dalam surat Q. 16:97, Q. 2:200 dan Q. 28:77, makna Islam adalah diin keselamatan dunia dan akhirat.

Dari beberapa makna Islam yang disebutkan dalam ayat-ayat Al Quran tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa Islam adalah panduan hidup yang lengkap bagi manusia. Dengan berserah diri dan tunduk hanya kepada Allah, maka manusia akan mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW pun telah bersabda bahwa Islam tinggi dan tiada kerendahan di dalamnya. Islam tinggi dan dimenangkan di atas semua agama, kepercayaan, dan isme-isme lainnya (Q. 48:28, 9:33).

Islam secara bahasa memiliki beberapa makna seperti aslama (menundukkan atau menghadapkan wajah), sallama (menyerahkan diri), salaama (kesejahteraan atau keselamatan), siliim (kedamaian) dan sullam (tangga).

Dalil Al Quran surat An Nisa ayat 125: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan dia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”.

Allah ingin memberikan pemahaman bahwa orang yang terbaik dalam ketundukan kepada Allah yaitu orang yang menundukan wajahnya. Artinya, seluruh jiwa dan raganya merupakan cerminan dari ketundukan kepada Allah. Rahasia kata wajh dalam Al Quran secara bahasa adalah muka berarti anggota tubuh yang paling mulia. Kata wajh ada hubungannya dengan kata ittijah (arah/orientasi), artinya seorang muslim orientasinya hanya kepada Allah.

Orang muslim adalah orang yang keseluruhan dirinya diserahkan hanya kepada Allah. Sebagai konsekuensi logis atas keimanan dan kelslamannya. Dalil Al Quran surat An Nisa ayat 65, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam had mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya”.

Orang yang mengikuti ajaran Islam, adalah orang yang selamat di dunia dan akhirat. Keselamatan ini menurut Allah adalah keselamatan yang sebenarnya, Dalil surat Al An’am ayat 54: “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah “Salamun `alaikum“, Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Keselamatan dan kesejahteraan dalam Islam bukan hanya diperuntukkan kepada kaum muslimin. Tetapi untuk umat manusia, flora dan fauna. Dalam peperangan, pemimpin pasukan muslim ketika melepas pasukannya selalu berwasiat agar tidak membunuh para orang tua, para wanita yang tidak ikut berperang, anak-anak kecil, dan tidak boleh merusak tempat-tempat ibadah serta tidak boleh menebang pepohonan.

Sebaliknya, jika Islam tidak diamalkan. Baik muslim dan manusia pada umumnya serta makhluk lainnya akan terancam keselamatannya.

Islam mengajak umat manusia ke dalam kehidupan yang penuh kedamaian. Dalil surat A1 Baqarah ayat 208: “Hai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu”.

Tidak ada kedamaian hakiki kecuali dalam Islam. Perdamaian yang tidak berangkat dari ajaran Islam adalah semu. Orang banyak tertipu dengan slogan­slogan perdamaian yang disampaikan oleh orang-orang yang tidak Islami. Karena ketika manusia tidak mengikuti ajaran Islam berarti dia tidak menikmati kedamaian, di dunia dan di akhirat. Allah berfirman dalam hadist Qudsi: “Telah Ku ciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif”.

Hanif ialah kecenderungan kepada kebenaran dan jauh dari kebatilan. Manusia banyak melakukan kemaksiatan dan jauh dari Allah karena peran syaitan dengan langkah-langkahnya. Sesuai dengan firman Allah di atas yang bermakna, orang­ orang beriman yang tidak menyeluruh masuk ke dalam Islam berarti telah masuk ke dalam perangkap syaitan dan syaitan adalah musuh manusia yang jelas.

Islam memiliki arti juga tangga, tangga itu bertahap. Hal ini menggambarkan bahwa ajaran Islam memperhatikan tadarruj (pentahapan). Hal itu terbukti dalam peristiwa di bawah ini yaitu pelarangan khamr. Ketika Allah mengharamkan khamr (minuman keras). Pada saat Islam turun di Mekah, manusia dinaungi jahiliyah (kebodohan) dan kebiasaan minum khamr. Kendati khamr minuman yang merusak akal, tetapi Al Quran tidak langsung mengharamkan sejak awal. Banyak para sahabat Nabi termasuk Umar bin Khattab RA suka khamr walaupun sudah berIslam. Setelah 13 tahun Rasulullah berdakwah, barulah turun ayat yang mengharamkan khamr. Setelah ayat itu turun, jalanan di Madinah menjadi sungai khamr karena para sahabat menumpahkan khamrnya.

Contoh lainnya bahwa Islam adalah bertahap yaitu penciptaan alam semesta. Dalam penciptaan alam semesta, Allah melakukannya secara bertahap yaitu dalam 6 masa. Sebenarnya Allah mampu menciptakan alam dalam tempo sekali saja. Tetapi Allah dalam hal ini, memberikan pelajaran bahwa munculnya sesuatu membutuhkan proses.

Begitu pula di dalam kewajiban berdakwah dilakukan secara bertahap. Islam harus disampaikan kepada seluruh manusia dengan proses tadarruj (bertahap). Dengan begitu, orang yang memeluk Islam pada hakikatnya adalah orang yang tengah menaiki tangga menuju ketinggian martabat manusia. Yakni, untuk mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi di hadapan Allah. Ketinggian martabat Islam terletak sejauhmana seorang muslim komitmen terhadap Islam.

1. Makna Lafziyan (lafaz) dari Islam

A. Islaam Al Wajh (Menundukkan Wajah)

Allah SWT menyebutkan agama (diin) dengan persamaan kepada orang yang menundukkan mukanya kepada Allah, kemudian ia berbuat kebaikan dan mengikuti millah Ibrahim (akidah) yang lurus. Islam menghendaki umamya untuk menundukkan muka dan dirinya kepada Allah SWT Ketundukan itu harus dibuktikan dan diwujudkan dalam amalan berupa kebaikan dan juga didasarkan kepada akidah yang lurus. Akidah, amal saleh, dan ketundukan adalah makna Islam secara integral. Islam sebagai diin tidak saja tunduk kemudian tidak berakidah dan tidak beramal, tetapi Islam mesti menjalankan perkara tersebut secara sempuma.

Dalil

Q.4:125.

clip_image002

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya”.

B. Al-Istislaam (Berserah Diri)

Allah SWT menyebutkan bahwa agama diberi makna sebagai berserah diri dan ketundukan kepada-Nya. Allah SWT menggambarkan kepada kita bahwa seluruh alam semesta ini, termasuk sebagian manusia saja yang berserah diri kepada Allah SWT Mereka berserah diri kepada Allah SWT secara sadar atau pun tidak sadar. Alam semesta seperti langit, bulan, bintang, dan segala sesuatu yang ada di langit berserah diri dan tunduk mengikuti perintah dan petunjuk Allah SWT, yang biasa disebut sunatullah kaimiyah. Begitu pula dengan segala sesuatu yang di bumi kecuali sebagian manusia seperti gunung, batu, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan lautan juga mengikuti petunjuk Allah SWT

Dalil

Q.3:83.

clip_image004

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”.

Hadits.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,”Sungguh beruntunglah orang yang berserah diri, yang diberi rezeki dengan rasa cukup, dan yang merasa puas dengan apa yang telah diberikan Allah baginya” (HR Ahmad).

C. As-Salaamah (Suci, Bersih)

Allah SWT menggambarkan pengikut agama (diin) Islam memiliki qalbun saliim saat kita menjumpai Allah SWT Sifat qalbun saliim sebagai pengikut Islam (muslim) menunjukkan bukti bahwa Islam yang dianutnya adalah agama yang juga suci dan bersih. Islam membawa ajaran kesucian dan kebersihan. Hal ini dapat dilihat dari ajaran Islam mengenai kebersihan secara fisik seperti bersih pakaian, tempat dan badan ketika akan shalat atau kebersihan moral seperti bersih hati dari prasangka, kebencian, dendam dan marah. Islam dengan ajaran ini akan menjadikan penganutnya berhati bersih.

Dalil

Q. 26:89.

“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.“

D. As-Salaam (Selamat/Sejahtera)

Islam juga bermakna selamat dan sejahtera apabila merujuk kepada arti lafaznya. Allah SWT menyatakan salamun ‘alaikum, keselamatan atas kamu (orang-orang Islam). Keselamatan adalah ciri dari mereka yang menganut Islam dan juga keselamatan sebagai arti dari salam. Dengan demikian Islam tidak membawa kejahatan dan kerusakan. Islam membawa umatnya dan segala yang ada di alam semesta ini selamat dan sejahtera.

Dalil

Q. 6:54.

clip_image006

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun `alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Hadits.

Dari Abu Hurairah RA berkata : Rasulullah SAW bersabda,”Kalian semua tidak akan masuk surga sehingga kamu beriman terlebih dahulu, clan kamu tidak beriman sehingga kamu saling mencintai sesamamu. Sukakah kalian semua aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu kerjakan, niscaya kamu akan saling mencintai sesamamui Sebarkanlah salam antara sesamamu” (HR Muslim).

E. As-Salm (Perdamaian)

Secara bahasa Islam juga bermakna salmi, atau perdamaian. Penjelasan ini disebutkan daiam A1 Quran surat 47 ayat 35, dimana Rasulullah Muhammad SAW diminta oleh Allah SWT untuk tidak meminta perdamaian karena ketakutan. Mereka, orang kafir, adalah lemah clan selalu menghalangi umat Islam dari agama Allah. Oleh karena itu, janganlah kita lemah dan meminta berdamai. Kaitan dengan topik yang sedang dijelaskan adalah kalimat salmi, yang disebutkan dalam A1 Quran adalah bahasa lain dari Islam sehingga dapat disebutkan bahwa Islam adalah perdamaian.

Dalil

QS. 47:35

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amal kalian.”

 

2. Kalimah Al-Islaam (Kalimat Islam)

Islam di dalam Al Quran disebut ad-diin, seperti yang ditulis Abul A’la A1 Maududi di dalam bukunya Prinsip-prinsip Islam. Hal ini mengandungi arti sistem kehidupan yang menyeluruh termasuk ibadah, kemasyarakatan, politik clan jihad. Islam mencakupi keseluruhan hidup dan Islam secara lengkap menyediakan keperluan manusia untuk mengatur kehidupan.

Dalil

Q. 3:19.

clip_image008

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi AI Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.

Q. 3:85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

A. Al-Khuduu’ (Tunduk)

Kami dengar dan kami taat adalah sikap orang yang tunduk. Ketundukan tersebut merupakan dasar Islam yang mengandungi arti berserah diri. Kalimat Islam juga mengandung ketundukan yang dapat menghantarkan kepada kemenangan.

Dalil

· Q. 24:51.

clip_image010

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-­orang yang beruntung”.

B. Wahyan Ilaahi (Wahyu Allah)

Panduan Islam adalah Al Quran dan Sunah. Al Quran adalah wahyu Ilahi sehingga Islam adalah dari Allah SWT bukan dari manusia. Islam bukan buatan manusia tetapi Islam adalah firman Allah. Dengan demikian tidaklah mungkin Islam disamakan dengan agama, kepercayaan, dan faham lainnya. Islam tidak akan mungkin kurang, tidak lengkap dan tidak sesuai tetapi Islam sangatlah sesuai dengan manusia yang juga diciptakan oleh Allah SWT Allah SWT mengetahui secata pasti siapakah manusia sedangkan manusia tidak akan mungkin mengenal manusia secara sempuma. Oleh karena itu panduan dan aturan hidup buatan manusia atau faham seperti materialisme, kapitalisme, komunisme, dan lainnya tidak akan sesuai dengan manusia bahkan akan membawa kehancuran manusia.

Dalil

Q. 53:4.

“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Q. 21:7.

clip_image012

“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”.

C. Diin Al-Anbiyaa, Wa Al-Mursaliin (Diin Para Nabi dan Rasul)

Diin Islam adalah diinnya para nabi dan rasul. Mereka semua membawa dan menyampaikan Islam kepada kaumnya dan manusia secara umum. Allah menurunkan kitab kepadanya dan kemudian diamalkannya. Kesamaan Islam yang dibawanya adalah menyeru manusia agar menjadikan Allah sebagai satu-satunya ilah. Perbedaan di antara para rasul adalah minhaj dan syariahnya yang mana Allah SWT menjadikannya yang mengikuti keadaan masyarakat dan waktunya.

Dalil

Q. 2:138.

“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.”

Q. 3:84.

clip_image014

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’ il, Ishaq, Ya’ qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘ Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri”.

Hadits.

Dari Abu Hurairah RA berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Kami, para nabi, adalah saudara seayah karena pangkal agama kami satu” (HR Bukhari).

D. Ahkaamullaah (Hukum-Hukum Allah)

Kitab Al Quran merupakan kebenaran Islam yang didalamnya mengandung hukum-hukum Allah sebagai tempat kita merujuk bagi panduan hidup di dunia dan di akhirat. Islam sebagai hukum Allah yang berfungsi juga memberikan hukuman dan penilaian kepada manusia.

Dalil

Q. 5:48.

“Dan Kami telah turunkan kepadamu A1 Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba­lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

Hadits.

Dari Abdurrahman Abdillah bin Umar bin Khattab RA berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Bangunan Islam itu atas 5 perkara, mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, puasa bulan ramadhan” (HRBukhari-Muslim).

Q. 5:50.

clip_image016

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin”?

E. Ash-Shiraath Al-Mustaqiim (Jalan yang Lurus)

Islam adalah jalan yang lurus. Oleh sebab itu siapa yang hendak mencapai tujuan yang benar dalam hidupnya mestilah mengikuti jalan lurus ini (Islam). Selain agama Islam adalah tidak lurus. Di mana jalan ini akan membawa kepada kesesatan karena tidak jelas hendak dibawa kemana. Selain Islam, panduan hidup dari liberalisme, hedonisme, komunisme, kapitalisme, dan sebagainya akan membawa kepada kerusakan potensi manusia itu sendiri. Islam justru membina dan memelihara potensi tersebut menjadi baik.

Dalil

Q. 6:153.

clip_image018

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa”.

Hadits.

Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Adullah bin Mas’ud RA dia berkata, “Rasulullah SAW membuat garis dengan tangannya, kemudian beliau bersabda, “Inilah jalan Allah yang lurus.” Kemudian beliau membuat garis di sebelah kiri dan kanan garis tadi, lalu bersabda,”Inilah jalan-jalan yang lain, tiada satupun di antara jalan itu melainkan ia ditempati oleh syaitan yang mengajak manusia ke jalannya.” Kemudian beliau membacakan ayat dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya” (HR Hakim).

F. Salamaah Ad-Dunyaa Wa AI-Aakhirah (Keselamatatn Dunia dan Akhirat)

Islam sebagai ad-diin menyuruh umatnya untuk mencari akhirat dengan tidak meninggalkan dunia. Dunia dan akhirat adalah sasaran yang perlu dicapai secara baik dan selamat. Dengan mengamalkan Islam maka kita akan memperoleh keselamatan di dunia dan di akhirat. Islam mengajarkan keseimbangan atau tawazun sehingga umamya akan mendapatkan kebahagiaan.

Dalil

Q. 16:97.

clip_image020

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Q. 28:77.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Hadits.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Allah tidak menzalimi suatu kebaikan bagi seorang mukmin. Kebaikan itu diberikan kepadanya di dunia dan diberikan pula pahalanya di akhirat. Adapun orang kafir, maka dia diberi makan di dunia karena aneka kebaikannya, sehingga apabila dia telah tiba di akhirat, maka tiada satu kebaikan pun yang membuahkan pahala” (HR Muslim).

3. AI-Islaam Ya’luu Wa laa Yu’laa `Alaih (Islam Tinggi dan Tiada Kerendaham di Dalamnya)

Apabila melihat dari keseluruhan makna Islam maka dapatlah disimpulkan bahwa Islam adalah berserah diri sehingga mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Islam berarti akidah, amal saleh, dan tunduk kepada Allah. Islam adalah sistem kehidupan yang lengkap. Islam adalah kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan. Dengan makna demikian maka sangatlah sesuai apa yang disebutkan Nabi SAW bahwa Islam itu tinggi dan tiada kerendahan di dalamnya (Islaam ya’luu wa laa yu’laa alaih). Pengertian tinggi berarti Islam di atas dari semua agama, kepercayaan, pemahaman atau pedoman hidup lainnya (Q. 48:28, Q. 9:33). Islam tinggi memberi arti pula bahwa Islam mempunyai izzah, prestise, harga diri dan kehormatan

Dalil

Hadits. Islam tinggi dan tiada kerendahan di dalamnya.

Q. 48:28.

clip_image022

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi”.

Q. 9:33.

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”

____________________________________________

Maraji:

1. Said Hawa, Al-Islam jilid 1 dan 2

2. Prof Dr. Abdul Karim Zaidan, Ushulud Dakwah.

3. Abul A’la Al-maududi, prinsip-prinsip Islam

4. Prof Dr. yusuf Al- Qaradhawi, Karakteristik Islam

5. Prof. Dr. Abdullah Al- Muslih dan Dr. Shalah Shawi, prinsip-prinsip Islam untuk kehidupan

Posted in Materi Tarbiyah, Tarbiyah | Tagged | Leave a comment

Dialog aqliah Al Quran

Dialog aqliah Al Quran bisa kita lihat dari tiga sisi berikut ini :

Pertama, Pengenalan jati diri manusia
Kedua, Pemilihan gaya bahasa yang sesuai dengan tingkat pengetahuan umum manusia
Ketiga, Pendekatan dialog dan diskusi

Pertama, pengenalan jati diri manusia

Al Quran memulai dialognya bersama manusia dengan mengarahkann mereka pada perenungan dan penghayatan akan jati diri mereka, dan berbicara tentang asal muasal, hakikat diri, pertumbuhan dan perkembangannya.

Hal ini secara jelas kita lihat di ayat pertama Al Quran yang turun, sebagaimana kita lihat pada lembaran-lembaran pertama Al Quran dari sisi penulisan secara tertib dan urut. Ayat pertama yang turun berisi pengenalan manusia dan jati dirinya, Allah swt berfirman :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” .(QS. Al Alaq : 1-5)

Kita perhatikan Allah tidak menunjukkan rububiyyah dan keesaan-Nya kepada manusia untuk awal ayat yang turun ini, namun Allah justru menunjukkan manusia kepada jati diri, asal muasal dan proses kejadiannya.

Begitu juga lembaran pertama Al Quran dari surat Al Baqarah, yang merupakan surat pertama dalam Al Al Quran (setelah ummul kitab), berisi tentang pengelompokan manusia dalam kehidupan di dunia ini, ada kelompok manusia beriman, kelompok manusia kafir dan kelompok manusia munafik, lalu sejarah perkembangan dan akhir kehidupann mereka.

Peringatan Allah kepada manusia akan jati dirinya dalam ayat di atas akan selalu berulang dalam surat-surat yang lain, jika kontek surat membutuhkan dalil adanya alam semesta dan realitas umat manusia, sebagai bukti bagi wujudnya Allah sang Khaliq, keesaan-Nya sekaligus juga hari akhir dengan segala kejadian dan peristiwa yang melingkupinya.

Ini adalah prolog yang memiliki nilai tarbiyah sangat penting, karena semua pengetahuan yang didapatkan manusia pada hakikatnya adalah buah dari pengetahuan sebelumnya, yakni pengetahuan akan jati dirinya. Tanpa pengetahuan awal ini, manusia tidak akan menemukan timbangan yang valid bagi pengetahuan yang berkembang dibawahnya. Kalau kita tidak yakin dengan akal dan tugasnya, maka kita tidak akan percaya kata-kata dan hasil pemikirannya, kalau bukan karena pengetahuan kita akan jati diri kita yang terdiri dari unsur ruhani dan jasmani, maka kita tidak akan sampai pada pengetahuan tentang hakikat alam semesta yang bertebaran di sekitar kita, dan kita tidak akan memahami hubungan kita dengan alam semesta.

Begitulah…apabila pengetahuan kita akan hakikat diri kita itu baik dan benar, maka pengetahuan kita akan alam semesta ini akan baik dan benar pula.

Sebaliknya, jika kita tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang jati diri kita dan batasan-batasannya, maka kita juga tidak akan sempurna dalam memahami uluhiyyah Allah, tidak akan benar aqidah kita tentang alam semesta, awal dan akhir perjalanannya, karena kepercayaan diri kita merupakan sumber bagai kepercayaan kita kepada setiap teori dan aturan hukum yang kita hasilkan. Apabia pencari kebenaran tidak yakin dengan diri dan akal yang ia punya, atau dalam kondisi yang tidak benar, maka akan hilanglah semua keyakinan akan ilmu dan pengetahuan dalam dirinya, dan kalaupun ilmu pengetahuan itu ia dapatkan, pasti penuh dengan kesalahan.

Mari kita perhatikan, sesungguhnya orang kafir yang mengingkari keimanannya kepada Allah, tidak mampu mendudukkan rububiyyah Allah dalam hatinya, adalah karena mata mereka yang buta dengan apa yang ada di sekelililng mereka, tidak pernah sadar sedikitpun untuk bergerak merenungi dan menyelami jati diri mereka.

Demi pentingnya hakikat inilah, Al Quran memulai sentuhan dialog aqliahnya kepada orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah dengan mengalihkan perhatian mereka kepada diri mereka dan cerita hidup mereka sendiri, ketika mereka sudah menyadari ini, maka Allah akan ajak mereka untuk berdialog tentang rububiyah dan keesaan-Nya, sekaligus juga kehambaan manusia pada-Nya.

Mari kita renungkan ayat-ayat berikut ini :

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ (5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (7) إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ (8)

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Sesungguhnya Allah benar-benar Kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati).” (QS. Ath Thariq : 5-8)

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya kami Telah menjadikan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes mani, Kemudian dari segumpal darah, Kemudian dari segumpal daging yang Sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, Kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, Kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya Telah diketahuinya.” (QS. Al Haj : 5)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (14)

“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al Mukminun : 12-14)

Jika kita merenungi ayat-ayat ini dan yang semisal dengannya, maka ayat-ayat itu berisikan tentang hakikat alam semesta ini, dengan keterpaduan dan ketundukannya pada aturan Tuhan yang Esa. Ayat-ayat ini menjadi prolog dalam menyingkap hakikat alam semesta dalam akal dan pikiran manusia.

Jika kita bersungguh-sungguhh dalam merenungi ayat-ayat Al Quran, maka kita akan melihat, bahwasanya Al Quran tidak akan berpanjang-panjang dan mendetail dalam menganalisa segala hal yang berkaitan dengan alam semesta, bahwasanya Al Quran tidak akan berbicara dengan gaya bahasa yang sangat beragam tentang awal munculnya alam semesta dan perkembangannya, sebagaimana yang dilakukan Al Quran ketika membahas dan membicarakan manusia.

Hikmah dari realitas ini adalah bahwa pengenalan manusia akan jati dirinya dan asal muasal penciptaannnya, adalah merupakan sarana tarbiyah yang tidak ada duanya, dalam kerangka meyakinkan akal dan pikirannya tentang hakikat yang menjadi rahasia bagi keberadaan dirinya.

Posted in First | Leave a comment

Al Quran konsep tarbiyah yang unik

Al Quran memiliki konsep tarbiyah yang unik, di dalamnya juga terdapat prinsip-prinsip pokok tarbiyah yang unik, keduanya memiliki perbedaan yang cukup besar.

Adapun konsep tarbiyah dalam Al Quran adalah jalan yang diampukan oleh Al Quran kepada semua umat Islam agar megikutinya dan berpegang teguh padanya. Adapun prinsip-priinsi pokok tarbiyah adalah seperangkat hukum, aturan dan nilai yang dibangun dan didakwahkan oleh Islam, dalam rangka membangun kepribadian, akhlak dan prilaku mereka, yang tercakup dalam hukum halal dan haram, aneka nilai akhlak yang diajarkan dan didakwahkan oleh Al Quran.

Sedang yang kami maksud konsep tarbiyah disini adalah konsep yang diampu oleh Al Quran, bukan yang disentuh oleh ajaran Islam secara umum. Karena Islam adalah agama yang secara garis besar aadalah konsep tarbiyah umat Islam secara menyeluruh, yang mewarnai jiwa, raga dan akal pikirannya, untuk meningkatkan kepribadiannya pada derajat fitrah yang hakiki.

Konsep tarbiyah yang menjadi tema bahasan kita dalam buku ini, terbagi ke dalam cabang dan bagian-bagian yang beragam banyaknya, akan menjadi panjang dan lama jika kita membahasnya dengan rincian dan detail-detailnya.

Kita akan mengambil prinsip-prinsip pokok dan pendukungnya secara global, dan membahsnya dengan tuntas, agar jelas dalam pandangan kita betapa pentingnya prinsip-prinsip ini dalam lingkup tarbiyah secara umum, dan jelas pula betapa butuhnya para murabbi di setiap medan tarbiyah pada prinsip-prinsip tersebut, sebagai panduan dan pendukung mereka dalam melakukan proses tarbiyah.

Pemahaman kita akan prinsip-prinsip ini akan memabawa kita kepada studi dan analisa lebih lanjut, lalu membuahkan nilai bagi konsep tarbiyah yang baru dan smart yang mana setiap ulama tarbiyah harus mengetahuinya, semenjak tarbiyah menjadi disiplin ilmu tersendiri, semenjak tarbiyah memiliki urgensi dalam tataran pengajaran dan pendidikan, dengan melihat ragam dan jenjang tarbiyah itu sendiri.

Inilh yang kami maksud dengan “Konsep tarbiyah dalam Al Quran” di buku kami yang ringkas dan sederhana ini.

Bertolak pada penjelasan di atas, ada tiga prinsip dasar tarbiyah yang dibangun dalam konsep tarbiyah Al Quran, ketiga prinsip dasar itu adalah :

Pertama, Muhakamah aqliah
Kedua, Ibrah dari sejarah
Ketiga, Menggugah emosi

Semua model tarbiyah yang kita dapatkan dalam Al Quran bermuara pada satu dari tiga prinsip dasar tarbiyah di atas, beredar dalam poros dan berjalan sesuai dengan salah satu dari tiga prinsip dai atas.

Dalam prakteknya ketiga prinsip dasar tarbiyah selalu terpisah, namun kesatuan dari ketiganya mencerminkan tangga yang harus kita pakai dalam menaikkan kepribadian dan akal pada posisi yang lebih tinggi dan mulia, yang mana fitrah kemanusiaan selalu cenderung padanya..

Akal saja tidak cukup untuk menumbuhkan kepercayaan diri, selama tidak ada dukungan realita yang menguatkannya, yang tercemin dalam sejarah dengan peristiwa dan ibrah yang selalu menyertainya. Bahkan ketika hati kita telah merasa kepercayaan diri, belumlah akan menjaadi tertarah dan terdorong, kecuali setelah ada tentara dan prajurit emosi dan perasaan yang kami sebut dengan menggugah emosi.

Jika tiga faktor ini terpenuhi dalam diri setiap anak manusia, dan membeikan panduan yang jelas kepada satu jalan, maka tidak akan ada rintangan ataupun halangan berarti dalam mencapai tujuannya.

Kita tidak akan terjauhkan dari hakikat sesuatu, terhalang untuk sampai pada tujuan hakikat tersebut, kecuali apabila salah satu dari ketiga faktor di atas tdak menunjukkan perannya dengan baik dalam menemukan, menyingkap dan memudahkan jalan pada hakikat ini.

Posted in First | Leave a comment